Filosofi Stoicism

Stoicism adalah aliran Filsafat Yunani – Romawi kuno yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun, tetapi masih relevan untuk kondisi manusia zaman sekarang. Stoicism bukanlah agama atau kepercayaan. Stoicism adalah filosofi yang sifatnya kompatibel dan komplementer dengan berbagai kepercayaan, sehingga filosofi ini cocok diterapkan oleh semua orang tanpa memandang agama dan kepercayaan.

Tujuan filosofi teras atau stoicism adalah untuk mengontrol diri atas emosi dan mengasah kemampuan untuk mengambil keputusan yang rasional dalam situasi apapun.

Berikut ini adalah rangkuman dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.




HIDUP SELARAS DENGAN ALAM

Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup dengan menggunakan nalar. Stoicism mengajarkan kita untuk menjalani hidup menggunakan nalar, bukan hanya mengikuti hawa nafsu dan emosi.

 

INTERCONNECTEDNESS

Interconnectednes adalah keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup. Kejadian kejadian yang ada di dalam hidup kita adalah hasil rantai peristiwa yang panjang. Segala sesuatu yang terjadi saat ini adalah mata rantai dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.

 

DIKOTOMI KENDALI

Dalam hidup ini, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada juga yang tidak bisa kita kendalikan. Stoicism mengajarkan untuk fokus ke hal hal yang bisa kita kendalikan, dan mengabaikan hal-hal yang diluar kendali.

Pendapat atau opini orang lain adalah hal yang diluar kendali. Sedangkan reaksi kita terhadap opini orang lain adalah hal yang bisa dikendalikan.

Stoicism tidak mengajarkan untuk pasrah terhadap nasib. Stoicism mengajarkan untuk mengabaikan hal yang diluar kendali tapi tetap melakukan hal-hal yang masih bisa dikendalikan.

 

INDEFFERENT

Indefferent artinya adalah tidak memiliki pengaruh. Semua hal yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya netral. Interpretasi kita sendiri yang menilai hal tersebut menjadi baik atau buruk.

Stoicism memasukan semua hal yang diluar kendali kita sebagai hal-hal yang tidak mempengaruhi kebahagiaan hidup kita.

 

INTERPRETASI DAN PERSPEKSI

Epictitus mengatakan bahwa sumber dari segala kekhawatiran sebenarnya ada di dalam pikiran kita, bukan peristiwa diluar kita.

Filosofi stoicism memisahkan antara impression dan interpretasi. Impression adalah segala sesuatu yang ditangkap indra kita, sedangkan interpretasi adalah makna apa yang telah kita lihat dan dengar.

Stoicism menganggap bahwa emosi negative adalah akibat dari nalar yang keliru.

Banyak emosi negative yang muncul karena adanya interpretasi otomatis. Ketika muncul emosi negative, kita bisa melihat suatu peristiwa dari sudut pandang lain sehingga kita bisa mengubahnya menjadi interpretasi positif.

Kalau kamu merasa tersinggung oleh perkataan dan perbuatan orang lain, itu sepenuhnya salah kita sendiri. Karena tersinggung adalah interpretasi yang kita bentuk sendiri.

 

STAR

Langkah-langkah yang bisa diambil saat kita mulai merasakan emosi negative dapat dilakukan sengan Teknik STAR (Stop, Thingking & Assess, Respond)

1. Stop (berhenti)
Ketika merasakan emosi negative kitab isa berhenti merasakan emosi dulu.

2. Thing & Asses
Setelah menghentikan emosi, kita bisa aktif berpikir secara rasional. Kemudian kita mulai menilai tentang baik atau buruk dari suatu peristiwa yang kita alami.

2. Respond
Setelah kita berfikir menggunakan nalar, barulah kita memberikan respond dalam bentuk ucapan atau Tindakan.

 

PREMEDITATIO MALORUM

Premeditatio Malorum adalah sebuah imunisasi mental. Premeditatio Malorum mengajarkan kita untuk membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi. Dengan membayangkan hal-hal negative yang akan terjadi, maka kita akan lebih siap ketika hal negative tersebut benar-benar kejadian.

Praktik Premeditatio Malorum artinya kita sengaja memikirkan hal-hal negative agar bisa mengantisipasi hal-hal tidak enak dimasa depan.

 

AMOR FATI

Amor Fati artinya kita merasakan hal-hal yang sedang terjadi saat ini. Amor Fati mengajarkan kita untuk tidak terlalu memikirkan masa lalu dan masa depan secara berlebihan. Masa lalu adalah sesuatu yang diluar kendali kita. Masa lalu sudah mati.

 

MANUSIA MENYEBALKAN

Manusia adalah makhluk sosial. Kemampuan komunikasi dengan bahasa kompleks yang dimiliki spesies manusia telah membuat kita saling bekerja sama untuk bertahan hidup. Namun, manusia adalah makhluk yang bisa saling menyakiti.

Dunia ini ada orang jahat dan orang baik. Namun, stoicism memberikan sudut pandang bahwa perbuatan jahat bisa juga lahir dari ketidaksengajaan bukan diniatkan.

 

INSTRUCT AND ENDURE

Hidup bersama manusia lain itu bukan sekedar menoleransi perilaku mereka. Keberadaan kita harus membantu satu sama lain secara aktif.

Kita bisa mengajarkan orang lain menjadi lebih baik. Kalau tidak tercapai, kita bisa menerima dan menoleransinya (endure).

Kemarahan adalah kegilaan sementara. Kemarahan jauh lebih merusak daripada penyebab kemarahan itu sendiri. Banyak hal tragis yang dilakukan oleh manusia ketika marah.

 

ORANG YANG HARUS DIHINDARI

Marcus Aurilius pernah berkata bahwa pertemanan palsu adalah hal yang terburuk. Selain teman palsu, ada juga orang-orang toxic yang hadir dalam hidup kita.  

Kita bisa menoleransi dan menerima orang-orang yang mengganggu hidup kita. Tapi, kalau kita tidak bisa menerima mereka, ingat kata Marcus Aurilius. Ketimun pahit sebaiknya dibuang.

 

KESUSAHAN DAN MUSIBAH

Stoicism mengajarkan kita untuk menginterpretasikan peristiwa negative sebagai ujian dan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

 

POLA PIKIR 3P

Pola piker 3P terdiri dari Personalization, Pervasiness, dan Permanence. Menurut psikologi Martin Selogman, pola pikir 3P ini bisa menghambat kita untuk pulih dari musibah. Pola pikir 3P terdiri dari:

1. Personalization. Menjadikan musibah sebagai kesalahan pribadi.

2. Persaviness. Menganggap suatu musibah dapat berpengaruh terhadap seluruh aspek hidup.

3. Permanence. Keyakinan bahwa akibat dari suatu musibah akan dirasakan terus-menerus.

 

HALANGAN ADALAH JALAN

Marcus Aurilius berkata bahwa halangan adalah jalan. The obstacle is the way. Pikiran kita bisa beradaptasi dan mengubah suatu halangan sebagai pendukung tujuan. Halangan justru bisa meningkatkan tindakan kita.

 

GROWTH MINDSET

Fixed mindset menganggap kecerdasan dan bakat adalah sesuatu yang statis. Growth mindset adalah mindset bahwa kita semua bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.

 

CITIZEN OF THE WORLD

Semua manusia adalah bagian dari dunia dan semesta yang sama. Kita seharusnya tidak membedakan orang, apalagi mendeskriminasi dan menyakiti orang yang berbeda.

 

TENTANG KEMATIAN

Bagi Stoicism, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, karena kematian adalah bagian dari alam. Manusia dilahirkan untuk mati, dan kita semua akan dilupakan.

Hidup bukan soal panjangnya, tetapi soal kualitasnya.

Segala ketakutan manusia tentang kematian disebabkan bukan karena kematian itu sendiri, tetapi anggapan dan gambaran kita mengenai kematian.

 

TIGA DISIPLIN

Stoicism mengenalkan tiga disiplin yang harus terus menerus dilatih. Tiga Disiplin tersebut yaitu :
1. Discipline of Desire. Kita semua harus mengendalikan keinginan, ambisi, dan nafsu kita.

2. Discipline of Action. Kita harus disiplin dalam tindakan atau perilaku.

3. Discipline of Assent/Judgement. Disiplin ini mengangkut kemampuan kita mengendalikan opini, interpretasi, dan value judgement.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intermediate Technikal Analysis

Personal Finance - TERNAK UANG by Raymond Chin

Kebiasaan Kecil untuk Perubahan Besar – James Clear